Saturday, May 9, 2009

Robot Penakluk Samudera Tiru Laba-laba


Fino Yurio Kristo - detikinet

Robot Laba-laba (softpedia)*

Bremen - Lagi, sebuah robot yang ditujukan khusus untuk menjelajah kedalaman lautan diciptakan. Jika sebelumnya mirip dengan ikan, kali ini bentuknya meniru bodi laba-laba dengan 4 lengan yang ditautkan ke tubuh elektroniknya.

Para ilmuwan bakal menerapkan sistem sensor yang ditautkan di robot sehingga bisa melacak berbagai hal di samudera, misalnya mendeteksi kerusakan di fasilitas penggali minyak dasar laut.


Fasilitas penggali sumber minyak di dasar lautan memang didesain kuat dan tahan lama, namun tentunya juga sering mengalami kerusakan. Nah, di sinilah nantinya si robot bakal memainkan peran untuk mengidentifikasi kerusakan yang terjadi.

Robot ini dikembangkan di Fraunhofer Institute yang berbasis di Bremen, Jerman. Marcus Maiwald selaku Project Manager menerangkan bahwa jika si robot menemui rintangan, ia juga bisa menghindarinya secara mandiri.

*) Dikutip detikINET dari Softpedia, Jumat (8/5/2009), prototipe robot ini sedang diciptakan. Belum diungkap kapan versi finalnya benar-benar berpetualang di laut lepas. ( fyk / faw )

Read More......

Saturday, April 25, 2009

Diagnosis Pengajaran Remidial

Download : Diagnosis Pengajaran Remidial.doc

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Salah satu tugas pendidikan formal adalah menciptakan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik untuk mengembangkan dirinya seoptimal mungkin sesuai dengan potensi yang dimilikinya dan lingkungan yang tersedia. Namun banyak ditemui sejumlah peserta didik yang secara potensial diharapkan dapat memperoleh prestasi yang tinggi, tetapi dalam kenyataannya prestasi peserta didik tersebut biasa-biasa saja. Bahkan mungkin lebih rendah dari teman lainnya yang potensinya kurang darinya. Untuk mengetahui potensi individu setiap peserta didik dapat diperoleh dengan melihat dari prestasi yang dicapai sebelumnya, melakukan observasi atau tes uji kemampuan.

Dengan cara diatas, dapat diperoleh indikasi peserta didik yang mengalami kesulitan belajar dalam aktivitas belajarnya dan siswa tersebut membutuhkan bantuan secara tepat dan dilakukan dengan segera untuk mengatasi permasalahan yang dihadapinya. Bantuan ini akan berhasil jika dapat dilaksanakan secara efektif dengan memahami sifat kesulitan yang mereka alami, memahami secara tepat factor yang menyebabkan dan menemukan berbagai cara untuk mengatasinya yang relevan dengan faktor penyebabnya.

B. Rumusan masalah

Dengan latar belakang masalah tersebut maka dapat merumuskan beberapa masalah yaitu :

1. Apa yang dimaksud dengan Diagnosis Pengajaran Remedial.

2. Metode apa saja yang digunakan dalam Diagnosis Pengajaran Remedial.

3. Bagaimana cara menerapkan Diagnosis Pengajaran Remedial dalam pendidikan.

C. Tujuan

Setelah mempelajari makalah ini diharapkan dapat memahami tentang Diagnosis Pengajaran Remedial dan mampu mengamplikasikannya dalam penyelenggaraan pendidikan.

D. Manfaat

Manfaat yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah ini yaitu :

1. Dapat mengetahui cara-cara mendiagnosis kesulitan belajar siswa.

2. Dapat mengaplikasikan metode Diagnosis Pengajaran Remedial.

3. dapat menambah khazanah keilmuan khususnya bagi guru.


BAB II

PEMBAHASAN


A. Pengertian

Diagnosis Pengajaran Remedial didefinisikan sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor yang menyebabkannya serta menetapkan kemungkinan-kemungkinan cara mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang subjektif dan selengkap mungkin. Dengan demikian, pekerjaan diognosis ini tidak sekedar mengidentifikasikan kelemahan peserta didik melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan (predicting) kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.

Beberapa contoh kesulitan belajar yang dapat dan sering didiognosis adalah ;

1. Gangguan perhatian pada anak sehingga anak tidak mampu memusatkan perhatiannya dalam jangka waktu panjang.

2. Distraktibilitas atau akibat dari kekurangan perhatian sehingga cenderung memperhatikan rangsangan yang kurang menonjol yang dapat berupa :

a. distraktibilitas visual (kosentrasi visual terganggu sehingga peserta didik sering melompati suatu kalimat saat membaca karena hanya ingin suatu pengalaman yang lebih seru).

b. Distraksibilitas auditorius (kosentrasi terganggu akibat suara suara).

c. Distraksibilitas internal (kosentrasi terganggu karena dirinya sendiri, misalnya berupa pikiran, ingatan, maupun asosiasinya sendiri).

3. Impulsif yaitu sering gegabah dalam mengerjakan sesuatu.

4. Kurang ulet.

5. Selalu berubah mengikuti motivasi yang lebih tinggi, misalnya melihat acara televisi daripada belajar.

6. Inkoordinasi yaitu sukar melakukan kegiatan motorik sehingga mengalami kesulitan menyalakan korek api, bermasalah dengan resleting dan lain-lain.

Untuk mengetahui potensi individu setiap peserta didik dapat diperoleh dengan melihat dari prestasi yang dicapai sebelumnya, melakukan observasi atau tes uji kemampuan. Cara lainnya yang dapat digunakan untuk mengetahui potensi individu setiap peserta didik antara lain :

1. Catatan waktu belajar efektif.

Dalam suatu bidang studi tertentu perlu diadakan pencatatan beberapa waktu secara efektif digunakan oleh peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal atau tugas tertentu. Catatan ini dapat berguna untuk menggambarkan peserta didik yang lebih cepat, terlambat atau tidak mengerjakan pada waktu yang ditentukan sehingga dengan mudah kita dapat menemukan kasus-kasus yang diduga peserta didik mengalami kesulitan belajar berdasarkan catatan keterlambatan tersebut.

2. Penggunaan catatan kehadiran (presensi) dan ketidakhadiran (absensi).

Frekuensi ketidakhadiran peserta didik dapat dijadikan indikator untuk menandai peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar. Bisa jadi relevansi ketidakhadiran tersebut akan nampak pada kualifikasi prestasinya (kalau hal ini menjadi pertimbangan dalam memberikan angka/ nilai).

3. Penggunaan catatan partisipasi (participation chart).

Dalam konteks ini partisipasi amatlah penting karena dengan memperoleh gambaran keaktivitas, kontribusi serta partisipasi peserta didik dalam kelompok, kita dapat menandai peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar.

4. Penggunaan catatan dan bagan sosiometri.

Bagan sosiometri digunakan untuk memperoleh informasi tentang peserta didik yang paling disenagi atau yang terisolasi dalam kelompok/ kelas.

B. Tahapan-tahapan Diagnosis

Para ahli dalam bidang diagnosis telah mengajarkan tahapan-tahapan yang ditempuh untuk melaksanakan diagnosis kesulitan belajar secara berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut hanya bersifat teknis bukan perbedaan prinsip. Sebagian besar tahapan-tahapan diagnosis antara lain :

1. General diagnosis.

Tahapan ini mempergunakan tes buku seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologi hasil belajar. Sasarannya untuk menemukan siapakah peserta didik yang diduga mengalami kelemahan tertentu.

2. Analytic diagnosis.

Tahapan ini yang dipergunakan adalah tes diagnostic. sasaran ialah untuk mengetahui letak kelemahan peserta didik.

3. Psychological diagnosis.

Pada tahapan ini teknik dan instrument yang digunakan antara lain :

a. Observasi (control observation).

b. Analisis karya tulis (analysis of written work).

c. Analisis proses dan respon lisan (analysis of oral responses and account of procedures).

d. Analisis berbagai catatan objektif (analysis of objective record of various type).

e. Wawancara (interview).

f. Pendekatan loboratories dan klinis (laboratory and clinical method).

g. Studi kasus (case studies).

C. TEKNIK DAN LANGKAH-LANGKAH

Para ahli dalam bidang diagnosis telah mengajukan langkah-langkah yang ditempuh untuk melaksanakan diagnosis kesulitan belajar secara berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut hanya bersifat teknis bukan perbedaan prinsip. Sebagian besar langkah-langkah diagnosis antara lain :

1. Identifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi peserta didik antara lain :

a. Menandai Peserta didik dalam suatu kelas atau kelompok yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, baik yang sifatnya umum maupun khusus dalam pelajaran mata tertentu.

b. Dengan membandingkan posisi/ kedudukan peserta didik dalam kelompoknya atau dengan kriteria tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan pada suatu mata pelajaran tertentu.

c. Teknik yang dapat digunakan bermacam-macam antara lain :

· Meneliti hasil ujian yang tercantum dalam laporan dan kemudian membandingkan dengan nilai rata-rata kelas.

· Menganalisis hasil ujian yang dengan memperhatikan tipe kesalahan yang dibuatnya.

· Observasi pada saat peserta didik dalam proses belajar-mengajar.

· Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas bimbingan.

· Melaksanakan sosiometris untuk melihat hubungan sosial psikologis yang terdapat pada peserta didik.

2. Lokasi faktor dan sifat kesulitan (permasalahan).

Pada garis besarnya sebab kesulitan dapat timbul dari dua hal yaitu :

  1. Faktor internal yaitu faktor yang berada dan terletak pada diri peserta didik itu sendiri. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh :

· Kelemahan mental faktor kecerdasan, inteligensi atau kecakapan/ bakat khusus yang dapat diketahui melalui tes tertentu. Seperti kelemahan fisik, panca indera, saraf, kecepatan, karena sakit dan sebagainya.

· Gangguan yang bersifat emosional.

· Sikap dan kebiasaan yang salah dalam mempelajari bahan pelajaran-pelajaran tertentu.

· Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami bahan ajar lebih lanjut.

  1. Faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar yang menyebabkan kesulitan. Faktor eksternal antara lain :

· Situasi atau proses belajar mengajaryang tidak merangsang peserta didik untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkannya peserta didik belajar secara aktif “student active learning”).

· Sifat kurikulum yang tidak fleksibel, ketidakragaman pola dan standart administrasi).

· Beban studi yang terlalu berat.

· Metode mengajar yang kurang memadai.

· Sering pindah-pindah sekolah.

· Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar mengajar.

· Situasi rumah tangga yang kurang mendukung untuk melakukan aktivitas belajar.

· Kurangnya bimbingan yang diterima peserta didik.

Untuk mengetahui semua faktor diatas dapat dilakukan berbagai cara, anara lainnya :

o Mengamati tingkah laku atau kebiasaan peserta didik dalam mengikuti pelajaran maupun dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan yang diberikan di kelas.

o Berusaha untuk mengetahui kebiasaan dan sikap belajar peserta didik di rumah melalui kunjungan rumah (home visit).

o Mengadakan tes kecerdasan atau tes bakat khusus.

o Mengadakan observasi yang intensif baik di dalam maupun di luar kelas.

o Mengadakan wawancara dengan peserta didik yang bersangkutan atau dengan guru, wali kelas, orang tua maupun teman-temannya bila diperlukan.

3. Lokasi jenis dan sifat kesulitannya.

Persoalan yang perlu di telaah dalam masalah ini :

· Dalam bidang studi atau kawasan tujuan/ kompetensi manakah kesulitan belajar yang terjadi pada peserta didik.

· Pada bagian atau ruang lingkup bahan apa saja kesulitan tersebut terjadi.

· Dalam segi proses belajar apa saja kesulitan tersebut terjadi.

Cara dan alat yang dapat digunakan antara lain :

o Tes diagnosis pada setiap bidang studi.

o Menganalisis dan membandingkan hasil beberapa ujian yang pernah dikerjakannya.

o Memeriksa buku catatan.

o Tes kecerdasan atau tes bakat khusus.

o Skala sikap yang sudah standart maupun yang secara sederhana bias dibuat oleh pengajar.

o Wawancara dengan murid yang bersangkutan atau dengan guru, wali kelas, orang tua dan teman-temnnya bila diperlukan.

o Mengadakan observasi yang intensif baik di dalam kelas maupun diluar kelas.

4. Prakiraan kemungkinan pemberian bantuan (prognosis).

Jika telah di telaah tentang letak kesulitan yang dialami peserta didik, jenis dan sifat kesulitan dengan latar belakangnya dan factor-faktor penyebabnya maka dapat diperkirakan hal-hal sebagai berikut :

· Apakah peserta didik tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak.

· Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami peserta didik tersebut.

· Kapan dan dimana pertolongan tersebut dapat diberikan.

· Siapa yang dapat memberikan pertolongan.

· Bagaimana cara menolong peserta didik agar dapat dilaksanakan secara efektif.

· Siapa saja yang harus dilibatkan dalam menolong peserta didik tersebut.

5. Penetapan kemungkinan cara mengatasinya.

Langkah ini adalah langkah menyusun suatu rencana atau beberapa alternative rencana yang dapat dilaksanakan untuk membantu mengatasi kesulitan yang dialami peserta didik tertentu. Rencana tersebut hendak berisi hal-hal sebagai berikut :

· Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan yang dialami peserta didik tersebut.

· Menjaga agar kesulitan serupa jangan sampai terulang.

Ada baiknya rencana tersebut di diskusikan dengan pihak pihak yang dipandang berkepentingan dan diperkirakan akan terlibat dalam pemberian bantuan pada peserta didik, seperti wali kelas, guru, orang tua, pembimbing, dokter dan lembaga-lembaga lainnya. Secara khusus kegiatan ini dilakukan oleh guru yang mengetahui persis tentang kesulitan yang di alami peserta didik tersebut.

6. Tindak lanjut.

Kegiatan tindak lanjut adlah kegiatan melakukan pengajaran remedial yang diperkirakan paling tepat dalam membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Kegiatan tindak lanjut ini berupa :

· Melaksanakan bantuan berupa melaksanakan pengajaran remedial pada mata pelajaran tertentu. Pelaksanaan pengajaran remedial ini sesuai dengan program yang dibuat pada point penetapan kemungkinan cara mengatasi kesulitan peserta didik.

· Wewenang guru bidang studi, wali kelas dan lain sebagainya untuk melakukan pengajaran remedial pada bidang studi tertentu yang dianggap sebagai pemberian bantuan.

· Membagi tugas dan peranan orong-orang tertentu (wali kelas dan guru pembimbing) dalam pemberian bantuan pada peserta didik.

· Senantiasa mengecek dan ricek kemajuan peserta didik baik pemahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan. Serta mengecek tepat guna program remedial yang dilakukan setiap saat untuk diadakan revisi dan supervise.

· Mentransfer atau merefer (referral case) peserta didik yang menurut perkiraan kita tidak mungkin lagi di tolong karena kasus/ faktor penyebabnya di luar kemampuan.


BAB III

KESIMPULAN

Diagnosis Pengajaran Remedial merupakan suatu bentuk usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor yang menyebabkannya serta menetapkan kemungkinan-kemungkinan cara mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang subjektif dan selengkap mungkin.

Dengan demikian, pekerjaan diognosis ini tidak sekedar mengidentifikasikan kelemahan peserta didik melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan (predicting) kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.

Diagnosis pengajaran remedial merupakan program yang tepat untuk meningkatkan kualitas peserta didik dan untuk pencapaian tujuan instruksional yang secara optimal sehingga proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien.


DAFTAR PUSTAKA

  • Fakihudin. 2007. Pengajaran remedial dan pengayaan. Jakarta. Bayumedia.
  • Nursalim, Muhammad, dkk, Drs, M.Si. 2007. Psikologi Pendidikan. Surabaya. Unesa University Press.
Read More......

Saturday, March 28, 2009

Benarkah Ada Spesies Mampu Hidup di Air Mendidih

Sabtu, 28 Maret 2009 | 13:21 WIB
NEW DELHI, KOMPAS.com — Beberapa ilmuwan India telah menemukan mikro-organisme yang disebut "extremophiles", yang dapat bertahan hidup di dalam air mendidih dan radiasi sinar ultraviolet.


Menurut laporan tabloid setempat Mail Today, para ilmuwan tersebut menemukan mikro-organisme itu pada ketinggian 40 kilometer di atas permukaan Bumi.

Penelitian dipimpin ilmuwan dari Center of Cellular and Microbiology di kota Hyderabad, India Selatan, S Shivaji. Ia telah meneliti bakteri di Antartika, Samudera Kutub Utara, dan Gletser Himalaya. "Ketiga spesies baru yang ditemukan sekarang dapat dibedakan dari semua spesies yang sejauh ini dilaporkan di dalam catatan ilmiah," kata surat kabar tersebut, yang mengutip keterangan Shivaji.



Bakteri itu dapat bertahan pada radiasi ultraviolet dosis lebih tinggi, tumbuh di dalam kondisi gizi rendah, dan memiliki susunan asam lemak yang memungkinkan mereka bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Spesies baru itu kini diisolasi. Semua spesies tersebut dikumpulkan dari ketinggian antara 20 kilometer dan 41,4 kilometer pada April 2005, tetapi temuannya baru terjadi belum lama ini. Para ilmuwan mengatakan sulit untuk meramalkan bagaimana bakteri dapat bertahan hidup di lingkungan yang rendah oksigen semacam itu.

Penelitian extremophiles menimbulkan pertanyaan mengenai kelangsungan hidup bentuk kehidupan. Itu dapat mengarah pada pengenalan lebih lanjut mengenai rangkaian baru dan menemukan beragam penerapan produk yang berlandaskan bioteknologi.


Sumber : kompas.com
Read More......

How to Make Water in the Desert

Dehydration can set in quickly in the desert. If you are lost in this barren landscape, you can actually extract water from soil or plants through condensation with the techniques described below.

Pit-style Solar Still

  1. Dig a few curved holes (the more the better) about half a meter deep so that the moist subsoil is clearly visible. If you are in dryer conditions, dig the hole a bit deeper, as it is essential that the moist subsoil is clearly visible. If there are any plants, throw them in the hole as well.

    • Survey the land for signs of dried out river beds; these are the best places to seek moisture.
    • Do not dig the hole in the shade. The process needs direct sunlight to work correctly. Look around and make sure that shade won't move over your solar still before evening arrives.
    • You may lose more water perspiring while digging than the still will generate for you in the end, depending on the moisture in the soil, how hard the soil is to dig, and what you're digging it with.
    • Urinating in the hole provides extra moisture and is sanitary because only the water evaporates.
    • This technique can also be used to purify dirty water, including urine[1]--anything but radiator fluid.[2] Instead of digging a hole, replace the hole with a larger container containing the tainted water and do everything else the same. If you don't have a container, pour the tainted water directly in the hole.
  2. Place an open coffee can, mug, cup or canteen in the center of each hole. If you have a length of plastic tubing, you can run it from the bottom of the coffee can out the edge of the hole. You can use the tubing to suck the water from the can without dismantling the still.
  3. Lay a taut piece of clear plastic wrap across the top of the hole. To create a seal, pour sand in a circle around the hole along the outside of the plastic wrap. Pour the sand an inch or two from the edge of the plastic wrap. Ensure that there are no gaps not sealed by the sand. The plastic wrap must seal the hole shut; if it is punctured the water will not condense.
  4. Place a small to medium sized rock in the center of the plastic wrap so that the plastic wrap dips to a point above the can. Keep the plastic wrap from touching the can or else the water will not drip into the can.
  5. Sit back and wait for the sun to evaporate water out of the moist soil and any plants you threw in there. The water will condense on the plastic wrap because it cannot escape the hole and will drip into the can. If you have the plastic tubing, drink from that.
  6. Once the sun dries the subsoil in that hole, start the process all over by digging another hole or just dig deeper.


Plant Condensation

  1. Put a clear plastic bag on the end of a plant or small tree branch.
  2. Make sure the bag is sealed as tightly as possible around the branch. The plant transpires water during the process of transpiration. A clear plastic bag is necessary to maintain photosynthesis.
  3. Water vapor will collect and condense in the bag. Make sure the water collecting in the bag won't drip out.
  4. Wait until evening for maximum condensation before removing bag.
  5. Switch the bag to another branch and repeat.



Read More......

Tuesday, March 24, 2009

Peranan Guru

Guru mempunyai beberapa peranan antara lain :

Guru Sebagai sumber belajar
Guru merupakan sumber belajar bagi siswa didiknya. Guru adalah sumber belajar yang paling utama.

Guru sebagai fasilitator
Seorang guru harus dapat menguasai benar materi yag akan diajarkan juga media yang akan digunakan bahkan lingkungan sendiri juga termasuk sebagai semberbalajar yang harus dipelajari oleh seorang guru.

Seorang siswa mempunyai beberapa kemampuan menyerap materi berbeda-beda oleh karena itu pendidik harus pandai dalam merancang media untuk membantu siswa agar mudah memahami pelajaran. Ketrampilan untuk merancang media pembelajaran adalah hal yang pokok yang harus dikuasai, sehingga pelajaran yang akan diajarkan bisa dapat diserap dengan mudah oleh peserta didik. Media pembelajaran didalam kelas sangat banyak sekali macamnya misalkan torsu, chart maket


Guru sebagai pengelolah kelas
Manager memenit kelas, tanpa kemampuan ini maka performence dan karisma guru akan menurun, bahkan kegiatan pembeajaran bisa kacau tanpa tujuan.

Beberapa fungsi guru sebagai fasilitator
  1. Merancang tujuan pembelajaran
  2. mengorganisasi beberapa sumber pembelajaran
  3. Memotivasi, mendorong, dan menstimulasi siswa. Ada 2 macam dalam memotivasi belajar bisa dilakukan dengan hukuman atau dengan reaward
  4. Mengawasi segala sesuatu apakah bejalan dengan lancar apa belum dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran
Guru sebagai demonstrator
Guru menjadi sosok yang idela bagi siswanya hal ini dibuktikan apabila ada orang tua yang memberikan argumen yang berbeda dengan gurunya maka siswa tersebut akan menyalahkan argumen si orangtua dan membenarkan seorang guru. Guru adalah acuan bagi peserta didiknya oleh karena itu segala tingkah laku yang dilakukannya sebagian besar akan ditiru oleh siswanya

Guru sebagai demonstrator dapat diasumsikan guru sebagai stauladan bagi siswanyadan contoh bagi peserta didik.

Guru sebagai evaluator
Evaluator atau menilai sangat penting adalan rangkaian pembelajaran karena setiap pembelajaran pada akhirnya adalah nilai yang dilihat baik kuantitatif maupun kwalitatif. Rangkaian evaluasi meliputi persiapan, pelaksanaan, evaluasi.

Tingkat pemikiran ada beberapoa tingkatan antara lain :
  1. Mengetahui
  2. Mengerti
  3. Mengaplikasikan
  4. Analisis
  5. Sintesis (analisis dalam berbagai sudut)
  6. Evaluasi
Manfaat evaluasi bisa digunakan sebagai umpan balik untuk siswa sehingga hasil nilai ini bukan hanya suatu point saja melainkan menjadi solusi untuk mencari kelemahan di pembelajaran yang sudah diajarkan.

Hal -hal yang paling penting dalam melaksanakan evaluasi
  1. Harus dilakukan oleh semua aspek baik efektif, koqnitif dan psikomotorik
  2. Evaluasi harus dilakukan secara terus menerus dengan pola evaluasi hasil dan evaluasi proses
  3. Evalusi dilakuakn denga berbagai proses instrumen
  4. Harus terbuka

refearal: http://www.sekolah-dasar.blogspot.com/2008/11/13-peranan-guru-sebagai-pendidik.html

13 peranan guru sebagai pendidik

1. Guru Sebagai Korektor, guru harus dapat membedakan nilai yang baik dan man nilai yang buruk.Semua nilai yang baik harus guru pertahankan dan nilai yang buruk harus disingkirkan dari watak dan jiwa anak didik.

2. Guru Sebagai Inspirator, guru harus dapat memberikan ilham yang baik bagi kemajuan anak didik. Guru harus dapat memberi petunjuk (ilham) bagaimana cara belajar yang baik.

3. Guru Sebagai Informator, guru harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu penetahuan dan teknologi, selain bahan pelajarn untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum.

4. Guru Sebagai Organisator, guru memiliki kegiatan pengelolaan akademik, menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, dan sebagainya.

5. Guru Sebagai Motivator, guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar. Peran ini sangat penting dalam interaksi edukatif.

6. Guru Sebagai Inisiator, guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Bukan mengikuti terus tanpa mencetuskan ide-ide inovasi.

7. Guru Sebagai Fasilitator, guru hendaknya dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegitan belajar anak didik, menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.

8. Guru Sebagai Pembimbing, guru membimbing anak menjadi manusia dewasa susila yang cakap dan mandiri.

9. Guru Sebagai Demonstrator, mempergakan apa yang diajarkan secara diktatis, sehingga apa yang guru inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tujuan pengajaran tercapai dengan efektif dan efisien.

10. Guru Sebagai Pengelola Kelas, agar anak didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi untuk senantiasa belajar di dalamnya.

11. Guru Sebagai Mediator, guru hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang media pendidikan baik jenis dan bentuknya, baik media material maupun nonmaterial.

12. Guru Sebagai Supervisor, guru dapat membantu, memperbaiki, dan menilai secara kritis terhadap proses pengajaran.

13. Guru Sebagai Evaluator, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator yang baik dan jujur, dengan memberikan penilaian yang menyngkut intrinsik maupun ekstrinsik. Guru tidak hanya menilai produk, tetapi juga menilai proses.


Read More......

Friday, February 27, 2009

Mobil Terbang



Mungkinkah nanti ada mobil bisa terbang seperti dalam film starwars ??? ohh mungkin saja, semua hal yang dianggap mimpi bisa menjadi kenyataan. Dulu sebuah bola lampu bisa menyala juga hal yang mustahil tapi kini bukan hal yang luar biasa.


Sama halnya dengan mobil terbang ini, pada tahun 1956 sebuah mobil terbang pernah dirancang oleh sebuah perusahaan Aerocar dan pernah terbang ke kuba bahkan sekarang sudah dilelang di internet.

Illustration of Flying Car

Boston-area company berencana untuk memulai uji penerbangan tahun ini. yang mengabungkan antara mobi dan persawat terbang Dan akan terus diuji Jadi impian untuk memiliki mobil terang sekarang bukan hal yang mustahil lagi Read More......

Friday, February 13, 2009

Bolehkah Mesin Motor Dicuci Masih Keadaan Panas?

http://www.kompas.com/data/photo/2009/02/09/1655158p.jpg

Ada yang bilang, motor habis kena hujan cepat (langsung) dicuci. Jika didiamkan berhari-hari bisa menimbulkan karat. Ada juga yang mewanti-wanti, seusai jalan dan mesin masih panas, jangan langsung diguyur air.

Malah tukang ojek lebih parah. Begitu melihat ada genangan air, kontan berhenti dan motor disiram. Termasuk mesin sehingga mengeluarkan kepulan asap. Bahkan mesin sengaja dinyalakan sambil dimasukkan gigi persneling untuk membersihkan pelek.

Terus terang, sampai sekarang belum ada jawaban yang pasti, boleh tidaknya mesin diguyur kala suhunya masih panas. Agar tidak penasaran, Galan Ridwan, mantan penasehat teknik tim Suzuki AHRS, menjelaskan kalau semua teknik cuci seperti di atas bisa dilakukan, mau mesin masih panas, mati, atau dihidupkan.

Menurut Galan, boleh saja suhu dapur pacu masih panas diguyur air dan tak akan mengubah struktur material. Sebab, suhu pendingin—air yang disemprotkan—maupun pemanas (jika steam) masih di bawah batas ukuran. "Lain hal jika suhu air di bawah minus 0 derajat atau air panas di atas 100 derajat. Itu yang bisa bikin struktur material komponen mesin berubah sehingga kinerja mesin jadi tidak normal," papar alumnus IKIP Bandung, jurusan Teknik Mesin Otomotif.

Ia mencontohkan bola-bola laher saat akan ditempatkan pada bantalan bearing. Jika disiram dengan air minus 10 derajat, komponen itu akan menciut dan dengan mudah masuk ke rumah bantalan.

Jadi, mesin masih panas, dingin, atau masih hidup boleh diguyur. Kecuali mau membuka atau kencangkan baut, sebaiknya suhu mesin dalam kondisi normal.

Lantas bagaimana jika badan sudah lelah habis menempuh perjalanan puluhan kilometer, sementara kondisi motor sudah kotor. Sebenarnya enggak perlu dicuci dan dilap semua. Ada beberapa bagian penting yang mesti bersih.

- Bersihkan mika lampu depan dan belakang dan panel spidometer, terutama sisi-sisinya. Karena jika didiamkan mika akan berembun.

- Perhatikan teleskopik shockbreaker depan. Kalau ada percikan lumpur, as suspensi harus dilap karena jika kotoran terus menempel akan cepat merusak sil shockbreaker.

- Shockbreaker belakang juga harus dilap, terutama model lama. Atau as shock yang enggak ada penutupnya, kotoran bisa merusak sil.

- Kolong sepatbor belakang harus disemprot dan bersih dari kotoran. Terutama untuk skubek, lengan ayun yang menyatu sama mesin disiram. Pengendapan kotoran dikhawatirkan mengganggu kerja lengan ayun dan bisa membuat karat. * (KR15)

sumber.http://otomotif.kompas.com




Read More......

Blogspot Template by Isnaini Dot Com Powered by Blogger and Local Jobs
http://teknik-mesin06.blogspot.com/