B. Rumusan masalah
Dengan latar belakang masalah tersebut maka dapat merumuskan beberapa masalah yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan Diagnosis Pengajaran Remedial.
2. Metode apa saja yang digunakan dalam Diagnosis Pengajaran Remedial.
3. Bagaimana cara menerapkan Diagnosis Pengajaran Remedial dalam pendidikan.
C. Tujuan
Setelah mempelajari makalah ini diharapkan dapat memahami tentang Diagnosis Pengajaran Remedial dan mampu mengamplikasikannya dalam penyelenggaraan pendidikan.
D. Manfaat
Manfaat yang dapat diperoleh dari pembuatan makalah ini yaitu :
1. Dapat mengetahui cara-cara mendiagnosis kesulitan belajar siswa.
2. Dapat mengaplikasikan metode Diagnosis Pengajaran Remedial.
3. dapat menambah khazanah keilmuan khususnya bagi guru.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Diagnosis Pengajaran Remedial didefinisikan sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor yang menyebabkannya serta menetapkan kemungkinan-kemungkinan cara mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang subjektif dan selengkap mungkin. Dengan demikian, pekerjaan diognosis ini tidak sekedar mengidentifikasikan kelemahan peserta didik melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan (predicting) kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Beberapa contoh kesulitan belajar yang dapat dan sering didiognosis adalah ;
1. Gangguan perhatian pada anak sehingga anak tidak mampu memusatkan perhatiannya dalam jangka waktu panjang.
2. Distraktibilitas atau akibat dari kekurangan perhatian sehingga cenderung memperhatikan rangsangan yang kurang menonjol yang dapat berupa :
a. distraktibilitas visual (kosentrasi visual terganggu sehingga peserta didik sering melompati suatu kalimat saat membaca karena hanya ingin suatu pengalaman yang lebih seru).
b. Distraksibilitas auditorius (kosentrasi terganggu akibat suara suara).
c. Distraksibilitas internal (kosentrasi terganggu karena dirinya sendiri, misalnya berupa pikiran, ingatan, maupun asosiasinya sendiri).
3. Impulsif yaitu sering gegabah dalam mengerjakan sesuatu.
4. Kurang ulet.
5. Selalu berubah mengikuti motivasi yang lebih tinggi, misalnya melihat acara televisi daripada belajar.
6. Inkoordinasi yaitu sukar melakukan kegiatan motorik sehingga mengalami kesulitan menyalakan korek api, bermasalah dengan resleting dan lain-lain.
Untuk mengetahui potensi individu setiap peserta didik dapat diperoleh dengan melihat dari prestasi yang dicapai sebelumnya, melakukan observasi atau tes uji kemampuan. Cara lainnya yang dapat digunakan untuk mengetahui potensi individu setiap peserta didik antara lain :
1. Catatan waktu belajar efektif.
Dalam suatu bidang studi tertentu perlu diadakan pencatatan beberapa waktu secara efektif digunakan oleh peserta didik dalam menyelesaikan soal-soal atau tugas tertentu. Catatan ini dapat berguna untuk menggambarkan peserta didik yang lebih cepat, terlambat atau tidak mengerjakan pada waktu yang ditentukan sehingga dengan mudah kita dapat menemukan kasus-kasus yang diduga peserta didik mengalami kesulitan belajar berdasarkan catatan keterlambatan tersebut.
2. Penggunaan catatan kehadiran (presensi) dan ketidakhadiran (absensi).
Frekuensi ketidakhadiran peserta didik dapat dijadikan indikator untuk menandai peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar. Bisa jadi relevansi ketidakhadiran tersebut akan nampak pada kualifikasi prestasinya (kalau hal ini menjadi pertimbangan dalam memberikan angka/ nilai).
3. Penggunaan catatan partisipasi (participation chart).
Dalam konteks ini partisipasi amatlah penting karena dengan memperoleh gambaran keaktivitas, kontribusi serta partisipasi peserta didik dalam kelompok, kita dapat menandai peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar.
4. Penggunaan catatan dan bagan sosiometri.
Bagan sosiometri digunakan untuk memperoleh informasi tentang peserta didik yang paling disenagi atau yang terisolasi dalam kelompok/ kelas.
B. Tahapan-tahapan Diagnosis
Para ahli dalam bidang diagnosis telah mengajarkan tahapan-tahapan yang ditempuh untuk melaksanakan diagnosis kesulitan belajar secara berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut hanya bersifat teknis bukan perbedaan prinsip. Sebagian besar tahapan-tahapan diagnosis antara lain :
1. General diagnosis.
Tahapan ini mempergunakan tes buku seperti yang dipergunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologi hasil belajar. Sasarannya untuk menemukan siapakah peserta didik yang diduga mengalami kelemahan tertentu.
2. Analytic diagnosis.
Tahapan ini yang dipergunakan adalah tes diagnostic. sasaran ialah untuk mengetahui letak kelemahan peserta didik.
3. Psychological diagnosis.
Pada tahapan ini teknik dan instrument yang digunakan antara lain :
a. Observasi (control observation).
b. Analisis karya tulis (analysis of written work).
c. Analisis proses dan respon lisan (analysis of oral responses and account of procedures).
d. Analisis berbagai catatan objektif (analysis of objective record of various type).
e. Wawancara (interview).
f. Pendekatan loboratories dan klinis (laboratory and clinical method).
g. Studi kasus (case studies).
C. TEKNIK DAN LANGKAH-LANGKAH
Para ahli dalam bidang diagnosis telah mengajukan langkah-langkah yang ditempuh untuk melaksanakan diagnosis kesulitan belajar secara berbeda-beda. Namun perbedaan tersebut hanya bersifat teknis bukan perbedaan prinsip. Sebagian besar langkah-langkah diagnosis antara lain :
1. Identifikasi peserta didik yang diduga mengalami kesulitan belajar.
Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi peserta didik antara lain :
a. Menandai Peserta didik dalam suatu kelas atau kelompok yang diduga mengalami kesulitan dalam belajar, baik yang sifatnya umum maupun khusus dalam pelajaran mata tertentu.
b. Dengan membandingkan posisi/ kedudukan peserta didik dalam kelompoknya atau dengan kriteria tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan pada suatu mata pelajaran tertentu.
c. Teknik yang dapat digunakan bermacam-macam antara lain :
· Meneliti hasil ujian yang tercantum dalam laporan dan kemudian membandingkan dengan nilai rata-rata kelas.
· Menganalisis hasil ujian yang dengan memperhatikan tipe kesalahan yang dibuatnya.
· Observasi pada saat peserta didik dalam proses belajar-mengajar.
· Memeriksa buku catatan pribadi yang ada pada petugas bimbingan.
· Melaksanakan sosiometris untuk melihat hubungan sosial psikologis yang terdapat pada peserta didik.
2. Lokasi faktor dan sifat kesulitan (permasalahan).
Pada garis besarnya sebab kesulitan dapat timbul dari dua hal yaitu :
- Faktor internal yaitu faktor yang berada dan terletak pada diri peserta didik itu sendiri. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh :
· Kelemahan mental faktor kecerdasan, inteligensi atau kecakapan/ bakat khusus yang dapat diketahui melalui tes tertentu. Seperti kelemahan fisik, panca indera, saraf, kecepatan, karena sakit dan sebagainya.
· Gangguan yang bersifat emosional.
· Sikap dan kebiasaan yang salah dalam mempelajari bahan pelajaran-pelajaran tertentu.
· Belum memiliki pengetahuan dan kecakapan dasar yang dibutuhkan untuk memahami bahan ajar lebih lanjut.
- Faktor eksternal yaitu faktor yang datang dari luar yang menyebabkan kesulitan. Faktor eksternal antara lain :
· Situasi atau proses belajar mengajaryang tidak merangsang peserta didik untuk aktif antisipatif (kurang memungkinkannya peserta didik belajar secara aktif “student active learning”).
· Sifat kurikulum yang tidak fleksibel, ketidakragaman pola dan standart administrasi).
· Beban studi yang terlalu berat.
· Metode mengajar yang kurang memadai.
· Sering pindah-pindah sekolah.
· Kurangnya alat dan sumber untuk kegiatan belajar mengajar.
· Situasi rumah tangga yang kurang mendukung untuk melakukan aktivitas belajar.
· Kurangnya bimbingan yang diterima peserta didik.
Untuk mengetahui semua faktor diatas dapat dilakukan berbagai cara, anara lainnya :
o Mengamati tingkah laku atau kebiasaan peserta didik dalam mengikuti pelajaran maupun dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan yang diberikan di kelas.
o Berusaha untuk mengetahui kebiasaan dan sikap belajar peserta didik di rumah melalui kunjungan rumah (home visit).
o Mengadakan tes kecerdasan atau tes bakat khusus.
o Mengadakan observasi yang intensif baik di dalam maupun di luar kelas.
o Mengadakan wawancara dengan peserta didik yang bersangkutan atau dengan guru, wali kelas, orang tua maupun teman-temannya bila diperlukan.
3. Lokasi jenis dan sifat kesulitannya.
Persoalan yang perlu di telaah dalam masalah ini :
· Dalam bidang studi atau kawasan tujuan/ kompetensi manakah kesulitan belajar yang terjadi pada peserta didik.
· Pada bagian atau ruang lingkup bahan apa saja kesulitan tersebut terjadi.
· Dalam segi proses belajar apa saja kesulitan tersebut terjadi.
Cara dan alat yang dapat digunakan antara lain :
o Tes diagnosis pada setiap bidang studi.
o Menganalisis dan membandingkan hasil beberapa ujian yang pernah dikerjakannya.
o Memeriksa buku catatan.
o Tes kecerdasan atau tes bakat khusus.
o Skala sikap yang sudah standart maupun yang secara sederhana bias dibuat oleh pengajar.
o Wawancara dengan murid yang bersangkutan atau dengan guru, wali kelas, orang tua dan teman-temnnya bila diperlukan.
o Mengadakan observasi yang intensif baik di dalam kelas maupun diluar kelas.
4. Prakiraan kemungkinan pemberian bantuan (prognosis).
Jika telah di telaah tentang letak kesulitan yang dialami peserta didik, jenis dan sifat kesulitan dengan latar belakangnya dan factor-faktor penyebabnya maka dapat diperkirakan hal-hal sebagai berikut :
· Apakah peserta didik tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak.
· Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami peserta didik tersebut.
· Kapan dan dimana pertolongan tersebut dapat diberikan.
· Siapa yang dapat memberikan pertolongan.
· Bagaimana cara menolong peserta didik agar dapat dilaksanakan secara efektif.
· Siapa saja yang harus dilibatkan dalam menolong peserta didik tersebut.
5. Penetapan kemungkinan cara mengatasinya.
Langkah ini adalah langkah menyusun suatu rencana atau beberapa alternative rencana yang dapat dilaksanakan untuk membantu mengatasi kesulitan yang dialami peserta didik tertentu. Rencana tersebut hendak berisi hal-hal sebagai berikut :
· Cara-cara yang harus ditempuh untuk menyembuhkan kesulitan yang dialami peserta didik tersebut.
· Menjaga agar kesulitan serupa jangan sampai terulang.
Ada baiknya rencana tersebut di diskusikan dengan pihak pihak yang dipandang berkepentingan dan diperkirakan akan terlibat dalam pemberian bantuan pada peserta didik, seperti wali kelas, guru, orang tua, pembimbing, dokter dan lembaga-lembaga lainnya. Secara khusus kegiatan ini dilakukan oleh guru yang mengetahui persis tentang kesulitan yang di alami peserta didik tersebut.
6. Tindak lanjut.
Kegiatan tindak lanjut adlah kegiatan melakukan pengajaran remedial yang diperkirakan paling tepat dalam membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar. Kegiatan tindak lanjut ini berupa :
· Melaksanakan bantuan berupa melaksanakan pengajaran remedial pada mata pelajaran tertentu. Pelaksanaan pengajaran remedial ini sesuai dengan program yang dibuat pada point penetapan kemungkinan cara mengatasi kesulitan peserta didik.
· Wewenang guru bidang studi, wali kelas dan lain sebagainya untuk melakukan pengajaran remedial pada bidang studi tertentu yang dianggap sebagai pemberian bantuan.
· Membagi tugas dan peranan orong-orang tertentu (wali kelas dan guru pembimbing) dalam pemberian bantuan pada peserta didik.
· Senantiasa mengecek dan ricek kemajuan peserta didik baik pemahaman mereka terhadap bantuan yang diberikan. Serta mengecek tepat guna program remedial yang dilakukan setiap saat untuk diadakan revisi dan supervise.
· Mentransfer atau merefer (referral case) peserta didik yang menurut perkiraan kita tidak mungkin lagi di tolong karena kasus/ faktor penyebabnya di luar kemampuan.
BAB III
KESIMPULAN
Diagnosis Pengajaran Remedial merupakan suatu bentuk usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor yang menyebabkannya serta menetapkan kemungkinan-kemungkinan cara mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang subjektif dan selengkap mungkin.
Dengan demikian, pekerjaan diognosis ini tidak sekedar mengidentifikasikan kelemahan peserta didik melainkan juga mengimplikasikan suatu upaya untuk meramalkan (predicting) kemungkinan dan menyarankan tindakan pemecahannya.
Diagnosis pengajaran remedial merupakan program yang tepat untuk meningkatkan kualitas peserta didik dan untuk pencapaian tujuan instruksional yang secara optimal sehingga proses belajar mengajar lebih efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
- Fakihudin. 2007. Pengajaran remedial dan pengayaan. Jakarta. Bayumedia.
- Nursalim, Muhammad, dkk, Drs, M.Si. 2007. Psikologi Pendidikan. Surabaya. Unesa University Press.